Kategori Berita Fraksi PKS Profil Singkat No Anggota: A-92 Komisi: IX (Kependudukan, Kesehatan, Tenaga Kerja dan Transmigrasi) Badan: Panitia Anggaran DPR Telp/Fax: 5756436/5756437 Daerah Pemilihan: KALSEL 1 Asisten: Mutia Febrina Ruang: 317 Gd Nusantara II Lantai 3 Email: aboebakar@cbn.net.id
|
Rabu, 12 Agustus 2009 13:58 | 2938 hit
Mengurai Kemacetan Jakarta“Macet lagi macet lagi, gara-gara si Komo lewat .” Bait tersebut merupakan tembang lagu anak-anak beberapa waktu lalu yang mungkin merefleksikan kehidupan di Jakarta. Menurut JICA, rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor di Jakarta 11 persen pertahun, sedangkan pertambahan luas dan panjang jalan kurang dari 1 persen pertahun. Apabila kondisi ini tidak segera diatasi, diperkirakan tahun 2014 akan terjadi kemacetan total di Jakarta. Artinya sesaat setelah keluar rumah kita akan bertemu dengan kemacetan.
Dalam upaya mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mensosialisasikan Pola Transportasi Makro yang merupakan jawaban dari permasalahan ini yang harus segera dilakukan dengan berbagai kendalanya, diantaranya adalah : 1. Pengembangan angkutan umum massal berupa Subway atau Kereta Api, Monorail dan Busway. Untuk kereta api, angkutan ini diharapkan mampu meningkatkan kapasitas angkutnya. Serta mengoptimalkan jalur yang ada dengan menambah jumlah gerbong, memperkecil Headway, memperbesar frekuensi, otomatisasi atau elektrifikasi atau bahkan dengan menambah jalur. Share angkut kereta api selama ini kurang dari 2 persen angkutan Jakarta, padahal seharusnya kereta api mampu menjadi tulang punggung transportasi di Jakarta. Apalagi dengan keunggulan komparatifnya berupa mampu mengangkut massal, hemat energi, murah, cepat, dan sebagainya. Namun permasalahan terbesarnya saat ini adalah kelembagaan terkait penyelenggaraan KA di Jakarta. PT KAI commuter Jabodetabek dan PT KAI sebagai induk perusahaan masih belum mampu membagi peran khususnya terhadap aspek teknis penyelenggaraan. Sementara monorail masih terkendala masalah pembiayaan pembangunan. Sedangkan busway, tentunya dengan mengoptimalkan pelayanannya, yaitu dengan ketepatan waktu, menambah jumlah armada, membuat kantung-kantung parkir di sekitar halte, sistem feeder yang terintegrasi satu sama lain. 2. Pembatasan lalu lintas, pembatasan penggunaan dan penumpang kendaraan bermotor di area dan waktu tertentu seperti three in one, pembatasan lahan parkir dan meningkatkan biaya parkir, sehingga pengguna kendaraan pribadi akan berpikir beberapa kali sebelum menggunakan kendaraannya. Road Pricing berupa pengenaan biaya pada kendaraan yang melintas pada area dan waktu tertentu. Sebelum melaksanakan program ini, beberapa syaratnya yaitu sistem angkutan umum pada daerah tersebut harus sudah baik dan harus sudah ada system basis data yang akurat mengenai mobil dan pengguna mobil. 3. Peningkatan kapasitas jaringan, berupa pelebaran jalan, fly over, dan sebagainya. Usaha ini memang juga perlu dilakukan, walaupun dirasa kurang signifikan dalam mengurai solusi kemacetan. Ibarat menuang bensin ke dalam kobaran api, dengan penambahan jalan, maka penambahan jumlah kendaraan pribadi dikhawatirkan juga akan meningkat yang pada akhirnya menambah kemacetan. Pengirim: Rafly Wibowo Update: 12 Agustus 2009 Oleh: Rafly Wibowo
|
Entri Terbaru
Arsip
|